Jumat, 26 Juni 2015

Percakapan ku dengan sapta dharma.



Suatu hari di warung kopi cak man, pemilik warung dan sekaligus penganut ajaran 'sapta dharma' yang taat. Cak man berbicara pada ku tentang ajaran
yang di anut nya dan sesekali aku nyruput kopi dan hisap rokok sambil mendengar cak man ceramah.
 Berhubung cak man yang banyak bicara, akhir nya aku membuat kesepakatan. Cak man yang merupakan penganut ajaran sapta dharma saya suruh untuk menunjukkan sesuatu tentang ajaran yang tidak ada dalam agama saya(islam).
 Apabila bisa menunjuk kan, maka cak man bisa membantah ayat alquran yang berbunyi:

 "pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk mu agamamu, dan Aku telah cukupkan nikamat-Ku pada mu, dan telah aku ridhoi islam menjadi agama mu. (Al maidah :3).


 Dikatakan sempurna nya nikmat adalah penyelesaian akhir yang sudah seratus persen dan tidak ada cacat di dalam nya. Dan apabila ada cacat, maka Tuhan berbohong. Dan di tambah lagi bahwa di dalam alquran tidak ada keraguan di dalam nya, yang artinya adalah murni di jamin benar.

 "Kitab (Al-quran) ini tidak ada keraguan di dalam nya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa..." (Al baqarah : 2).


 Cak man;
 Sapta dharma adalah ajaran murni jawa, ajaran ini sesuai yang "sapdo palon" ramalkan, bahwa beliau akan merubah ajaran di jawa menjadi ajaran 'budi'. Dan terhitung sejak hari di ramalkan dengan kemunculan ajaran sapta dharma adalah tepat.

Saya;
 Sebenar nya islam pun bisa dinamakan agama budi pakerti karna Rosululloh pernah bersabda bahwasa nya di utus untuk menyempurnakan "akhlak", yang dalam bahasa jawa di namakan "budi pakerti".

 "Sesungguh nya aku di utus untuk menyempurnakan akhlaq yang sholeh" (H.R Bukhori).

  Sudah ada cak man, ada yang laen?

Cak man;
 Sapta dharma mempunyai wewarah pitu atau tujuh dasar dharma yang menjadi panutan untuk warga sapta dharma dan merupakan pedoman hidup.
(Isi sapta dharma silah kan search)

Saya;
 Maaf cak man, saya bukan hanya punya tujuh tapi punya 6666 ayat yang di jadikan pedoman dalam hidup. Kalo hanya tujuh bingung saya. Contoh:
Orang tua saya menyuruh saya untuk pergi ke kota jakarta, tepat nya ke tugu monas, yang kebetulan saya belum pernah pergi ke tugu monas sama sekali. Kalau saya berangkat dari kota Nganjuk tempat asal saya, maka saya butuh informasi yang bukan hanya sedikit, mulai dari kereta api, jakarta bagian mana, bus way, butuh dana berapa dan masih banyak lagi. Semakin banyak informasi maka akan semakin mudah akses saya untuk ke monas.
 Bayangkan kalo saya di suruh orang tua ke tugu monas jakarta dengan hanya minim informasi, kemungkinan besar saya akan tersesat dan mungkin sampai ke tujuan tapi memakan waktu yg cukup lama karna muter muter tersesat.

Cak man:
 Seorang sapta dharma melakukan ibadah sujud dengan benar benar tanpa kesadaran diri, yaitu menunggu 'rasa' dari tuhan yang diturunkan ke tubuh lalu tubuh itu akan bergerak sujud secara otomatis. Tapi kalo belum ada 'rasa' yang turun dari Tuhan maka tidak akan sembahyang.

Saya:

Puluhan tahun sebelum ajaran cak man ada, di dalam islam ada kalimat populer yang di ambil dari Alquran Alkarim:

"La haulla walla quata illabillahil a'lliyil a'dzim..."
 Artinya: tiada daya dan upaya melainkan dari Alloh yang maha besar.

 Di dalam ruangan kelas ini 'YANG ADA' hanyalah siswa. Apakah ada selain siswa di ruangan itu?
 Di dalam galon air YANG ADA hanyalah Air. Apakah ada selain air?
 Di seluruh Alam semesta ini yang ada hanyalah kekuatan dari Alloh azzawajalla. Tidak ada yang laen, jikalau ada maka dia hanya mengaku ngaku. Di sinilah letak dari penyalah gunaan ayat, yang kadang melakukan kejahatan atas dasar ayat ini. Padahal, disini adalah "penghilangan diri" bukan "pengakuan diri".

Dan hal seperti ini seharus nya bukan di terapkan dalam sholat saja tetapi dalam kehidupan sehari hari, seperti ketika Rosululloh  di  timpukin kotoran onta, dipukuli hingga berdarah dll, Rosululloh tetap berkata;
 "La khaulla wala quata illabillahil a'liyyil a'dzim".

 Beliau berkata demikian adalah kapasitas beliau sebagai PRIBADI Muslim yang taat kepada tuhan nya (hablum minanlloh), tetapi kalau mengatas namakan golongan maka ceritanya laen.

Contoh, ketika delegasi Rosululloh ke raja Rum yang di aniaya maka saat itu beliau menyatakan perang, karna di sini urusan nya melibat kan banyak orang dan bukan individu.

Ketika negara indonesia di jajah oleh belanda maka sebagai warga negara wajib melawan penjajahan, itu kapasitas sebagai kelompok atau orang banyak, andaikata maju perang dan terbunuh;

'Ya Alloh, yang membunuh ku bukanlah musuh ku, tetapi Engkau. Karna memang tiada kekuatan selain dari mu'.

Bersambung......










Tidak ada komentar:

Posting Komentar