"Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hati nya untuk mengingat Alloh, mereka itu dalam kesesatan yang nyata".
(Az-zummar:22).
Kunci dari ayat tersebut adalah "mengingat Alloh", orang -orang yang Dzikrulloh adalah orang- orang yang beruntung karna mereka bukan kategori orang yang dalam 'kecelakaan besar'.
Dzikrulloh atau dalam bahasa kita adalah 'ingat kepada Alloh', mengandung dua pemahaman, yaitu ingat secara Lahir dan ingat secara Batin. Kedua hal ini harus berjalan bersamaan, karna dengan berjalan bersamaan suatu pekerjaan akan di katakan Sempurna.
Contoh, jika anda sedang lapar apakah dengan 'ingat' makan, maka perut akan menjadi kenyang? Jika anda haus kemudian hanya dengan ingat minum, apakah akan hilang dahaga? Maka dengan "ingat makan" itu adalah upaya batin, dan di iringi dengan "kegiatan makan" adalah upaya dohir yang akan menjadi kenyang. Lalu bisa di katakan Sempurna kegiatan tersebut.
Begitu juga dengan 'Dzikrulloh', ingat kepada Alloh belum sempurna jika hanya sebatas "ingat" saja, tetapi harus di iringi dengan gerak tubuh. Misalkan Sholat, mengaji Alquran, membaca kalimat dzikir dsb, dan di katakan Sempurna kegiatan ibadah jika dohir dan batin seimbang.
Permasalahan nya adalah, jika dzikrulloh adalah tujuan supaya tidak menjadi "sesat", dan dzikrulloh tersebut harus dilaksanakan secara Dohir dan Batin, apakah ANDA sekarang yang sedang membaca blog ini bisa di katakan SESAT? Karna perhatian anda sekarang ini tertuju kepada membaca blog ini dan bukan kepada Alloh. Begitu juga dengan saya, karna perhatian saya sekarang tertuju kepada penulisan blog dan bukan kepada Alloh SWT.
So, sekarang ini, detik ini, baik Saya dan Anda berada di dalam "kesesatan yang nyata", karna sama sama tidak mengingat Alloh secara dohir maupun batin. Bagaimana rasa nya menjadi orang sesat?
Mari bersikap dewasa dengan tidak langsung "menJUDGE" seseorang dengan perkataan "kamu sesat!", karna bisa jadi yang sesat adalah yang menunjuk.
Trima kasih.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar