Suatu hari, ketika saya melewati Jl. IR. Juanda Denpasar saya di kejutkan motor yang
saya kendarai tiba tiba mogok. Matahari yang menyengat dan perut yang lapar dan juga dalam keadaan tergesa gesa membuat situasi menjadi 'stress'.
Saat itu, datanglah seorang kakek penjual telur menghampiri.
"Telur mas?". Kakek itu menwarkan telur puyuh yang di bungkus dengan plastik berisi empat biji.
"Nggak pak". Jawabku.
"Cuma tiga Ribu mas",
"Pak, saya bilang NGGAK!", nada ku agak tinggi.
Saat itu juga si kakek ini mundur lalu tersenyum kemudian balik badan dan pergi.
Setelah kira kira 30 menit motor kembali menyala dan saya melanjut kan perjalanan.
Beberapa hari kemudian, ketika hari jumat dan waktu nya sholat jumat saya mampir ke mesjid di daerah dekat tempat tersebut. Entah mesjid nya yang kecil atau banyak jamaah nya yang pasti saya kebagian tempat di halaman masjid.
Tempat halaman masjid sengaja di beri karpet oleh remaja masjid tersebut, supaya jamaah yang datang belakangan dan tidak mendapatkan tempat di dalam bisa melakukan sholat jum'at berjamaah.
Ketika saya duduk bersila sambil Mendengarkan 'khotib' ceramah, datanglah kakek penjual telur yg waktu itu dengan tergesa gesa.
Dagangan yang di cangklong di pundak, di taruh bawah pohon kemudian topi berikut tas kecil yang kumal juga di tumpuk nya begitu saja lalu pergi menuju tempat wudhu, yang kebetulan memang agak jauh.
Aku lihat wajah nya yang keriput itu terbasuh keringat dan bibir nya yang pecah pecah seperti orang berpuasa, dan aku juga lihat dagangan nya masih banyak
'Mungkin belum laku atau baru berangkat ya? Ah ini sudah setengah hari, masak siang berangkat nya'.
Tidak lama aku berkata dalam hati, tiba tiba ada sekitar 5 anak anak kecil datang mengerumuni dagangan kakek itu dan aku mendengar salah satu dari bocah bocah itu berbicara
"Apa itu?"
"Telur puyuh", salah satu menjawab sambil cekikikan.
Tak seberapa lama kemudian, iqomah di kumandang kan tanda sholat juma'at di mulai. Dan betapa terkejut nya aku dan sempat mengganggu kekusukan sholat ku karna dagangan nya tinggal sedikit.
'Wah, apa di ambil anak anak itu ya, pasti anak anak tadi pelaku nya karna mereka tadi membuka buka dagangan'.
Singkat cerita sholat pun selesai, para jamaah berdiri merapikan sajadah dan mencari sandal mereka sendiri hendak pulang. Sengaja aku tidak beranjak dulu dengan alasan akan memberitahu kakek tadi bahwa dagangan nya telah di curi oleh anak anak tadi.
Gayung pun tersambut, aku lihat kakek itu datang dengan wajah yang tenang dan hati yang tentram.
"Pak, dagangan nya tadi di ambil sama anak anak nakal itu pak", kataku.
Sambil tersenyum dan mencangklong dagangan nya di pundak kakek itu berkata.
"Apa yang di ambil nak, saya tidak punya apa apa".
What The Hell... Apa yang terjadi? Ucapan yang sedikit dari nya mengungkap ribuan ayat Al quran di otak ku. Bahwasanya langit dan bumi kepunyaan-Nya, bahwasanya daya dan upaya adalah dari Nya, bahwasanya akan selamat orang orang yang bersam-Nya dan bahwasanya terlalu banyak untuk di tulis di sini.
Kakek itu seperti tidak merasa membawa sesuatu, seperti tidak merasa kehilangan sesuatu dan seperti hal nya minggu lalu, mundur sambil tersenyum dan balik badan lalu berjalan pergi. Tapi aku masih berdiri melihat nya hilang dalam kerumunan jamaah yang laen.
Beberapa hari kemudian saya bertemu dengan Beliau yang sedang menjajakan dagangan nya di SPBU, kali ini saya beli, bukan karna butuh, tapi karna KAGUM. Ya, kagum bahwa Beliau lah Lafadz yang berjalan.
Terima kasih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar